Sabtu, 29 Juni 2013

Antara Jihad dan Terorisme

Antara Jihad dan Terorisme



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Akhir-akhir ini kian marak berita-berita di media yang mengupas tentang jihad dan terorisme. Ada yang melakukan tindakan teror mengatas namakan jihad tapi sebaliknya ada juga yang jihad yang murni dipandang sebelah mata sebagai tindakan terorisme. Pada kesempatan ini saya tergelitik untuk ikut urun rembuk membahas tentang makna jihad dan terorisme
Jihad artinya mengerahkan seluruh kemampuan untuk mendapatkan sesuatu yang dicintai Allah dan menolak yang dibenci Allah. Jihad juga bisa diartikan sebagai sebuah tindakan yang bersungguh-sungguh untuk mencapai sesuatu yang Allah cintai berupa iman dan amal sholeh dan menolak sesuatu yang dibenci Allah berupa kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan
Sedangkan terorisme adalah praktek kekerasan atau intimidasi dengan tindak kekerasan yang bermuatan politis untuk mempengaruhi wibawa negara dengan cara melemparkan berbagai isue untuk maksud menggoyang perekonomian negara yang menyebabkan terjadinya krisis dan ketidak stabilan dalam negeri dan puncak-puncaknya adalah terjadinya chaos dan status quo.
Pelaku jihad disebut mujahidin dan mujahidah mereka adalah orng-orang yang mendedikasikan jiwa raganya untuk kepentingan agama, ikhlas tanpa pamrih hanya mengharap ridhonya Allah, sedang pelaku teroris adalah para geng-geng pencuri yang tidak lebih baik dari koruptor, system kerjanya selalu menakut-nakuti, membuat keonaran dan tekanan dari sebuah organisasi politik terhadap lawan politiknya yang orientasinya untuk kepentingan sendiri dan golongan yang bermuara pada kriminalitas dan kerusakan dunia.
Sebagai seorang muslim rasanya sangat tidak sepakat bahkan menolak dengan keras jika  Jihad diidentikkan dengan terorisme. Karena sangat jelas garis pemisah antar keduanya, bagaikan kutup utara dan kutub selatan, bagaikan warna hitam dan putih dan bagaikan siang dan malam jika diumpamakan.
Maka sangat disayangkan jika diantara orang-orang yang mencampur adukkan antara makna jihad dan terorisme justru datangnya dari kaum muslim sendiri, sungguh ironis. Padahal sesungguhnya ajaran Islam sangat jauh dari sifat kekerasan, Islam lebih mengutamakan musyawarah untuk mencari mufakat daripada melakukan tindakan kekerasan  apalagi kriminalitas.
Islam Agama Yang Haq
Islam dibangun dari nilai-nilai keikhlasan, tawadhu, kesabaran dan kedamaian. Islampun menghargai sebuah perbedaan bukan perdebatan, Islam menganjurkan mempererat persaudaraan bukan permusuhan. Karena Islam adalah rahmatan lil alamin yaitu rahmat untuk semesta alam. Maka jika ada yang menganggap jihad identik dengan terorisme, maka bisa dipastikan bahwa dialah sesungguhnya yang nyata-nyata seorang teroris itu.
Mari kita perhatikan betapa Al-Quran telah menempatkan jihad sebagai sikap yang mulia dan ditempatkan pada urutan yang paling utama diantara ibadah-ibadah yang lain. Al-Quran menyatakan dengan sangat jelas, agar kaum Muslim mencintai Allah dan RasulNya, serta jihad di jalan Allah diatas cintanya kepada yang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (terjemahan QS. At Taubah : 24)
Dalam riwayat lain dinyatakan, bahwa kaum Mukmin yang tidak berangkat jihad, meskipun ia berusaha dengan sungguh-sungguh melaksanakan amal kebaikan dan taqwa, dirinya tidak mampu menyamai orang yang pergi ke medan jihad. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Hurairah ra, bahwasanya para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam
“Ya Rasulullah! Amal apakah yang boleh menyamai jihad fi sabilillah? Rasulullah bersabda, “Kalian semua tentu tidak akan sanggup mengerjakannya.” Para sahabat pun mengulangi pertanyaannya dua atau hingga tiga kali, namun setiap kali diajukan pertanyaan itu, Rasulullah menjawab, “Kalian tidak akan mampu mengerjakannya.” Selanjutnya, pada pertanyaan yang ketiga, baginda Rasulullah bersabda, “Perumpamaan seorang mujahid di jalan Allah seperti halnya sa’im (orang yang berpuasa) yang selalu mentaati ayat-ayat Allah, dan ia tidak berhenti dari solat dan puasanya, hingga mujahid di jalan Allah itu pulang kembali.” (HR Bukhari dan Muslim)
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

0 komentar:

Posting Komentar